HAKIKAT MANUSIA MENURUT PLATO

Memahami makhluk Tuhan yang bernama manusia sungguh sangat sukar. Berbagai macam pandangan para tokoh mengenai manusia. Ahli mantic (logika) menyatakan bahwa manusia adalah “Hayawan Natiq” (manusia adalah hewan berpikir), seorang ahli filsafat yaitu Ibnu Khaldun menyatakan bahwa manusia itu madaniyyun bi al-thaba atau manusia adalah makhluk yang bergantung kepada tabiatnya. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa manusia adalah “zoon political” atau “political animal (manusia adalah hewan yang berpolitik).
Mengenai sifat makhluk yang bernama manusia itu sendiri yakni bahwa makhluk itu memiliki potensi lupa atau memiliki kemampuan bergerak yang melahirkan dinamisme, atau makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, humanisme dan kebahagiaan pada pihak-pihak lain. Dan juga manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang berfikir, berbicara, berjalan, menangis, merasa, bersikap dan bertindak serta bergerak
Hakikat manusia menurut Plato
Menurut Plato, martabat manusia sebagai pribadi tidak terbatas pada mulainya jiwa bersatu dengan raga, jiwa tidak berada lebih dulu sebelum manusia atau pribadi adalah jiwa sendiri. Sedangkan badan oleh Plato yang disebut sebagai alat yang berguna sewaktu masih hidup didunia ini, tetapi badan itu disamping berguna sekaligus juga memberati usaha jiwa untuk mencapai kesempurnaan, yaitu kembali kepada dunia “ide”.
Sedangkan jiwa berada sebelum bersatu dengan badan. Persatuan jiwa dengan badan merupakan hukuman, karena kegagalan jiwa untuk memusatkan perhatianya kepada dunia “ide”, jadi manusia mempunyai Pra-eksistensi yaitu sudah ada sebelum dipersatukan dengan badan dan jatuh kedunia ini.
Jiwa manusia sering dimengerti sebagai suatu benda halus atau suatu makhluk halus yang merasuki, meresapi serta menggunakan badan untuk mewujudkan cita-cita jiwawi. Terkadang pula jiwa manusia digambarkan atau dibayangkan persis seperti tubuhnya hanya saja tidak bissa diraba atau ditangkap sifat dari jiwa juga tergantung pada tarafnya..
Taraf tertinggi yaitu rasional, didalam manusia mengandaikan dukungan dari taraf-taraf yang lebih rendah, yaitu taraf anarganik (benda mati) taraf vegetatif (tumbuhan) dan taraf sensitive (binatang).
Dalam taraf rasional atau manusia pembaharuan merupakan peristiwa yang terus menerus terjadi. Pembaharuan menjadi begitu efektif didalam sejarah kehidupan manusia, karena didalam diri manusia terdapat kesadaran intelektual yang mempunyai kemampuan sangat efektif untuk menyederhanakan pengalaman dan memberi tekanan kepada segi yang dianggap pentingsambil menyingkirkan yang dianggap tidak relevan.
Kemampuan itu disebut kemampuan abstraksi, kemampuan abstraksi disisni berfungsi rasiio atau budi ssebagai yang menjalankan pemerintah atas keseluruhan ataupun bagian-bagian didalam manusia.
Didalam manusia terdapat 2 sumber bagi munculnya kebaruan yang satu merupakan hasil dari koordinasi yang ketat dari tubuh manusia sebagaimana juga terdapat pada binatanng, dan yang lain dari identitas yang hebat dari fungsi intelektual.
Perlu disadari bahwa budi tidak identik dengan jiwa, budi meskipun menduduki posisi tertinggi dan memegang dominasi atas bagian-bagian lain, hanyalah bagian dari jiwa, jiwa manusia adalah keseluruhan kompleks kegiatan mental dari taraf yang paling rendah sampai yang palling tinggi emosi, kenikmatan, harapan, ketakutan, penyesalan, penilaian dari macam-macam pengalaman mental innilah yang merupakan unsure-unsur pembentukan “jiwa manusia”, dan jiwa manusia itu ditandai dengan mental.
Menurut plato, jiwa manusia adalah entitas non material yang dapat terpisah dari tubuh. Menurutnya, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua, yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Dua unsur yang hakikat ini dijelaskan oleh Plato dengan pemisalan seseorang yang makan kue atau minum sesuatu ia makan dan ia minum. Ini kesenangan, sementara rasionya tahu bahwa makanan dan minuman itu berbahaya baginya.
Pada bagian lain Plato berteori bahwa jiwa manusia memiliki tiga elemen, yaitu roh, nafsu, dan rasio. Dalam operasinya ia mengandaikan roh itu sebagai kuda putih yang menarik kereta bersama kuda hitam (nafsu), yang dikendalikan oleh kusir yaitu rasio yang berusaha mengontrol laju kereta.
Dalam hal hidup bermasyarakat, Plato berpendapat bahwa hidup bermasyarakat itu merupakan keharusan bagi manusia; manusia tidak dapat hidup sendirian. Seseorang yang hidup di pulau sendirian akan sulit hidup karena aktifitas kemanusiaan seperti persahabatan, bermain, politik, seni dan berpikir tidak terjadi di pulau itu. Implikasi teori ini ialah manusia itu harus memiliki bakat dan minat yang berbeda antara seorang dengan lainnya, dan dari situ akan muncul spesialisasi dan pembagian kerja.
Plato dan Aristoteles menyatakan hakikat manusia terletak pada pikirnya. Berdasarkan tiga unsur hakikat manusia, Plato membagi manusia menjadi tiga kelompok. Pertama, manusia yang didominasi oleh rasio yang hasrat utamanya ialah meraih pengetahuan; kedua manusia yang didominasi oleh roh yang hasrat utamanya ialah meraih reputasi; ketiga, manusia yang didominasi nafsu yang hasrat utamanya pada materi. Tugas rasio adalah mengontrol roh dan nafsu.
Taraf pengalaman mental manusia terdiri dari penngalaman-pengalamn mental yang begitu kompleks, kegiatan mental yang kompleks ini merupakan kesatuan dari emosi, rasa senang (enjoyment), harapan, kehawatiran dan ketakutan penyesalan penilaian terhadap macam-macam alternatif serta macam-macam keputusan, pengalaman mental mempunyai dasarnya didalam pengalamn fisik.
Badan juga berfungsi sebagai bidang ekspresi manusia. Jiwa manusia adalah kesatuan kompleks dari kegiatan mental, dari yang paling rendah ke yang bersifat intelektual.
Mengenai kedudukan manusia yang paling menarik adalah sendiri dalam lngkungan yang diselidiki pula. Ternyata penyelidikan mengenai lingkungan ini lebih (dianggap) memuaskan dari pada penylidikan tentang manusia itu sendiri.
Plato dan Aristoteles menyatakan hakikat manusia terletak pada pikirnya. Bicara masalah hidup manusia itu memang unik, hidup adalah aktivitas, dan segala aktivitas membawa besertanya masalah-masalah tertentu. Masalah-masalah termaksud harus dipecahkan dengan berhasil untuk menjadikan manusia itu sesuatu yang sukses. Masalah-masalah tesebut dibagi 2 kategori, yaitu masalah immediate problem dan masalah asasi(utimmate problems)
Immediate problems ialah masalah-maslah praktis sehari-hari , masalah yang kemballi kepada keperluan-keperluan pribadi yang mendesak dan masalah seperti :administrasi negara, produksi, konsumsi dan distribusi. Kemudian masalah asai manusia , maka setiap manusia yang memperhatikan hidup dengan serius akan mendapatkan drinya berhadapan muka dengan masalah-masalah asasi tersebut. Setelah dia merasakan desakan beban dan liku-liku hidup.
Manusia Mempunyai Pengetahuan
Pengetahuan merupakan bagi makhluk yang mempunnyainya apakah dia manusia, malaikat atau banatang suatu kekayaan dan kesempurnaan. Dengan adanya pengetahuan yang dimilikinya manusia bisa memahami dirinya sendiri dan keberadaanya. Pengetahuan lebiih merupakan suatu cara berada dari pada suatau cara mempunyai. Aktifitas itu tidak berupa penyitaan atau pemilikan benda-benda sebaliknya berupa keterbukaan terhadap mereka.
Jadi pengetahuan adalah suatu kegiatan mempengaruhi subjek yang mengetahui dalam dirinya. Dia adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subyek.
Seputar Manusia
Kita menyadari diri kita meskipun sebagai satu kesatuan yang utuh, namun diri kita jelas terdiri dari bagian-bagian dan aspek-aspek yang begitu kaya, terdiri dari badan dan jiwa yang masing-masing kegiatan, kemampuan dan gaya serta perkembanganya sendiri.
Para pendukung fanatik tradisi, yang boleh disebut kaum konservatif, kurang lebiih berpegang pada keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, tidak tetap dan tidak dapat diramalkan secara logis. Sebab kodrat manusia telah rusak berat dan tidak tersembuhkan karena telah dicederai oleh dosa asal, atau sejenis itu. Sedangkan para pendukung revolusioner, yang biasanya disebut kaum liberal berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya baik dan bisa mencapai kesempurnaan.
Mengenai badan manusia dan strukturnya didalam ini berproses secara sederhana biasa dkatakan bahwa kutub fisi berfungsi secara husus pada wal proses. Kutub fisiklah yang menangkap atau menerima bahan atau penelolaan yang telah disajikan oleh dunia, sedangkan kutub mental berkegiatan untuk mengelola bahan tersebut sampai pada tahap kepenuhan diri.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa badan harus dimengerti secara luas, yaitu sebagai hasil dari seluruh proses yang bersifat obyektif, tidak berubah dan menjadi bahan bagi kutub fisik dari pengada-pengada baru. Didalam pengertian yang digunakan disi, badan bukan hanya terbatas pada tubuh, tetapi segala bentuk ekspresi yang bisa diamati pada manusia yang telah selesai berproses setiap saatnya, misalnya saja termasuk didalamnya, bagaimana seorang tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, tidur dan seterusnya untuk saat ini kita memusatkan perhatian kita pada tubuh manusia.

Sumber:
http://yufiali.weblog.esaunggul.ac.id/2014/06/11/hakekat-manusia-menurut-plato/
http://www.alfiforever.com/2015/03/apa-itu-hakikat-manusia-menurut-para.html
Zakcy Syata, Filsafat Manusia (Terbit Terang : Surabaya)
Hardono Hadi, Jati Diri Manusia (Kanisius : Yogyakarta, 1996)
Poejdja Wijatna, Manusia dengan Alamnya (Bina Aksara : Jakarta, 1983)

Iklan

Pemikiran Jean-Paul Sartre dalam “Existentialism and Humanism[1]”

Pengantar[2] :                                                                                                                                                                       Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit, khususnya yang berbicara tentang kesadaran. Untuk mempopulerkan idenya itu, maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). Lewat buku ini Sartre menyingkatkan pemikirannya sekaligus berupaya menanggapi sejumlah kritik yang dialamatkan kepadanya[3], khususnya dari kaum komunis dan pihak Kristen.
Buku itulah yang kini ingin kami eksplorasi dalam tulisan singkat ini. Adapun tujuan dekat dari penulisan ini adalah untuk memberikan sekelumit gambaran yang lebih terang mengenai eksistensialisme sebagaimana dimaksud Sartre dan dari situ kita bisa belajar sejumlah tema umum eksistensialisme seperti liberté (kebebasan), engagement (komitmen), angoisse (kecemasan), responsibilité (tanggungjawab), subjectivité (subjektivitas) dan bahwa ‘eksistensi mendahului esensi.’ Tujuan jauh dari tulisan ini adalah agar pembaca tergerak untuk langsung membaca dari sumber-sumber pertama dan bukan melulu tergantung dari keterangan yang diberikan dalam buku Sejarah Filsafat atau kritik atasnya. Selanjutnya diharapkan agar kita dapat menjadi kritis terhadap situasi dunia di sekeliling kita, kritis terhadap ideologi-ideologi yang bertebaran di sana-sini dan tidak lupa untuk menjadi kritis terhadap pemikiran Sartre dan terhadap diri sendiri. Tulisan akan dibagi menjadi 3 bagian pokok yang satu dengan lainnya saling berkaitan, walaupun mungkin secara longgar. Bagian pertama akan berbicara tentang eksistensialisme itu sendiri dengan keberagaman nuansanya. Dalam bagian kedua, penulis akan melihat apa yang dimaksud Sartre dengan humanisme. Pada bagian ketiga akan disampaikan sejumlah kritik atas pandangan Sartre. Mengingat keterbatasan ruang pengungkapan, tidak semua tema menarik yang dihantar oleh Sartre dalam bukunya tersebut akan penulis uraikan di sini.
Penjernihan istilah Eksistensialisme oleh sartre                                                                                                Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya, atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti, yaitu Eksistensialisme, Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak, “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu.” Eksistensialisme, misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme, quietisme[4], bahkan filsafat keputus-asaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya[5]. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme[6]. Dari pihak Komunis, Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois.
Dari pihak Katolik, seperti Mlle.Mercier, dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan, yang rendah, yang patut dicela, yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona, keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Lebih jauh lagi, eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Singkatnya, eksistensialisme itu melulu voluntary. Artinya, bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai.
Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam ke-terisolir-annya. Dan ini, dalam pandangan kaum komunis, dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni—seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya—karenanya, eksistensialisme dengan ego-nya, tidak akan sanggup menjangkau sesamanya, apalagi berpikir tentang tentang solidaritas.
Namun, apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama, ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda, dan radikal sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak punya arti apa-apa lagi[7]. Kedua, guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya, pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Selain itu, eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition[8]. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Ketiga, definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi[9] dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini?
Secara sederhana, Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife).[10] Seorang pembuat pisau kertas, disebut artisan, tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat, kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi dari pisau kertas itu, yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin, mendahului eksistensinya. Dengan kata lain, produksinya mendahului eksistensinya. Di sini, kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Namun, hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan padaNya kualitas “seorang” supernatural artisan. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini, kita selalu mengandaikan bahwa tatkala Allah menciptakan, Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. Dengan begitu,  tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Dengan begitu, manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). Artinya konsepsi tentang esensi dirinya, di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia, entah itu animal rationale (Aristoteles), atau wild man of the woods (Rousseau), man in the state of nature (Thomas Hobbes), dan the bourgeois (Karl Marx).
Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Bagi Sartre, jika Allah tidak eksis, setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya, sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Makhluk itu adalah manusia.
Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” adalah bahwa pertama-tama manusia itu eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan, hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia, sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Singkatnya, Manusia adalah.[11]
Pandangan ini mencengangkan, namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu, di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana, dalam keluarga apa, dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa, dan macam-macam hal lainnya?
Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada, katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis—-bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa demikian?
Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam tulisannya ini yaitu tentang humanisme.
Humanisme dalam pandangan Sartre                                                                                                                        Di atas sudah kita singgung secara sepintas bahwa Sartre menempatkan martabat manusia lebih luhur daripada benda-benda. Dengan ini saja kita bisa beranggapan bahwa yang menjadi pusat perhatian Sartre adalah manusia dengan segala kompleksitas eksistensinya. Pandangan Humanisme yang kalau kita lacak dalam sejarah pemikiran Barat sebenarnya bertolak dari gerakan Humanisme di Eropa pada abad ke-15 dengan tokohnya yaitu Erasmus Huis. Gerakan Humanisme ini mencapai puncaknya pada saat Revolusi perancis (k.l. 1789-1799) di mana kebebasan (liberté), kesetaraan (egalité)
dan persaudaraan (fraternité) menjadi tiga pilar pokok yang mendasari kesadaran tidak hanya manusia sebagai individu yang bebas dan otonom (dalam artian menentukan dirinya sendiri), namun juga kesadaran akan nilai intrinsik dari manusia itu sendiri dan tempatnya sebagai pusat dari realitas. Lalu, apakah Sartre sebenarnya hanya mengulangi apa yang sudah didengung-dengungkan beberapa ratus tahun sebelumnya dengan mengatakan humanisme? Apa yang baru dalam konsepsi Sartre tentang humanisme? Apa hubungannya eksistensialisme dengan humanisme?
Dalam pandangan Sartre, yang membedakan humanisme-nya dengan humanisme yang sudah digagas oleh banyak filsuf yang mendahuluinya terletak pada radikalitasnya[12].  Nilai humanisme pada era sebelumnya oleh Sartre dianggap belum radikal karena masih mengandaikan adanya nilai-nilai yang ditentukan dari luar diri manusia itu sendiri, entah itu Tuhan, Realitas Tertinggi, ataupun norma-norma buatan manusia yang dilanggengkan. Individu tidak mendapatkan tempat untuk menciptakan sendiri nilai-nilai yang ia percayai dan yang ia libati (engagement). Baginya, tidak akan ada satu perubahan apapun jika kita masih menganggap bahwa Tuhan itu ada. Kita seharusnya menemukan kembali norma-norma seperti kejujuran, kemajuan dan kemanusiaan, dan untuk itu Allah harus dibuang jauh-jauh sebagai sebuah hipotesis yang sudah usang dan yang akan mati dengan sendirinya. Bagi Sartre, mengutip Dostoevsky[13], “Jika Allah tidak eksis, maka segala sesuatu akan diizinkan.” Inilah titik berangkat dari eksistensialisme yang diacu Sartre. Manusia lantas tidak bisa lagi menggantungkan dirinya erat-erat pada kodrat manusia yang spesifik dan tertentu. Tidak ada determinisme. Manusia itu bebas, manusia adalah bebas. Tidak ada lagi excuse, manusia ditinggalkan sendirian. Manusia dikutuk, terhukum untuk menjadi bebas. Terkutuk sebab ia tidak menciptakan dirinya sendiri namun sungguh-sungguh bebas. Dan terhitung sejak ia terlempar ke dunia ini ia bertanggungjawab atas segala sesuatu yang ia lakukan. Action (tindakan), itulah kata kunci yang mau ditunjukkan Sartre kepada kita guna memberi makna pada kemanusiaan. Action dan bukan quietism. Dengan kata lain, “Man is nothing else but what he purposes, he exists only in so far as he realises himself. He is therefore nothing else but the sum of his actions, nothing else but what his life is.” [14] Jadi, jelas di sini bahwa realisasi diri manusia lewat tindakan adalah yang sesungguhnya membuat dirinya menjadi manusia. Namun tindakan ini jangan dimengerti sebagai tindakan tunggal pada saat tertentu saja. Tindakan di sini dimengerti sebagai totalitas dari rangkaian tindakan-tindakan yang sudah, sedang dan akan dilakukannya sepanjang hidupnya. A man is no other than a series of undertakings that he is the sum, the organisation, the set of relations that constitute these undertakings. Lewat itulah muncul apa yang kita sebut komitmen. I ought to commit myself and then act my commitment. Dan komitmen itupun perlu dipahami sebagai komitmen total dan bukan komitmen kasus-per-kasus atau tindakan tertentu. Inilah yang membedakan Humanisme Sartre dengan humanisme sebelumnya. Konsepsi humanisme Sartre tidak hanya bermain di level abstrak-spekulatif, namun lebih pada etika tindakan dan self-commitment.
Konsepsi humanisme Sartre yang kedua menyangkut martabat manusia itu sendiri, satu-satunya hal yang tidak membuat manusia menjadi sebuah objek. Dengan mengkritik materialisme yang  mendasarkan segala realitas (termasuk manusia di dalamnya) pada materi[15], Sartre mau membangun kerajaan manusia (bukan Kerajaan Allah!) sebagai sebuah pola dari nilai-nilai yang berbeda dari dunia materi. Subyektivitas sebagaimana sudah disinggung pada bagian satu di atas tidak bisa dipersempit artinya menjadi individual subjectivism. Sebabnya apa? Meminjam istilah yang digunakan Descartes, namun sekaligus mengoreksinya, dalam kesadaran cogito, aku berpikir, tidak hanya diri sendiri yang ditemukan namun juga orang lain. Manusia tidak bisa menjadi apapun kecuali kalau orang lain mengakui (bukan menentukan) dirinya secara demikian. Penyingkapan jati diriku pada saat yang bersamaan berarti penyingkapan diri orang lain sebagai sebuah kebebasan yang berhadapan dengan kebebasanku. Berhadapan baik dalam artian “bagi” atau “melawan.” Dengan begitu, kesadaran akan diriku dalam dunia ini sifatnya adalah inter-subjectivity. Berkenaan dengan itu, meskipun menyangkal adanya kodrat manusia, Sartre mengakui adanya a human universality of condition. Tanpa bermaksud masuk ke dalam detil dari uraian ini, cukuplah dikatakan di sini bahwa human universality ini bukan sesuatu yang sudah jadi (given), namun yang harus senantiasa dibuat oleh manusia yang melakukan tindakan pemilihan lagi dan lagi selama hidupnya.
Sebagai penutup dari bagian ini, kiranya pantas diajukan argumen ketiga yang memberikan ciri pada humanisme Sartre. Berangkat dari keberatan yang diajukan pada Sartre, “nilai-nilaimu itu tidaklah serius sebab bukankah kamu sendiri yang memilih mereka,”[16] Sartre menyanggahnya demikian. Pertama, Sartre sudah menekankan bahwa tidak ada Tuhan yang menciptakan nilai-nilai bagi manusia. Manusia sendirilah yang harus menemukan (invent dan bukan create) nilai-nilai bagi dirinya sendiri. Dan penemuan nilai-nilai ini berarti bahwa tidak ada yang à priori dalam hidup. Hidup belumlah apa-apa jika belum dihayati. Dan penghayatan ini, engkau sendirilah yang menetukannya. Dan nilai atau makna atas kehidupan ini tak lain tak bukan adalah sesuatu yang engkau pilih. Karenanya menjadi jelas bahwa selalu ada kemungkinan untuk menciptakan sebuah komunitas manusia. Dengan itu, Sartre mau menegaskan bahwa yang ia maksud dengan humanisme di sini bukanlah humanisme dalam kerangka teori yang meninggikan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan sebagai nilai tertinggi (supreme value).[17] Bagi Sartre ini humanisme yang absurd sebab hanya anjing atau kuda yang paling mungkin berada dalam posisi untuk melontarkan penilaian umum atas apa manusia itu. Seorang eksistensialis tidak pernah menganggap manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri sebab manusia masih harus ditentukan[18]. Humanity yang absurd semacam ini akan menggiring manusia pada pengkultusan, suatu sikap tertutup-pada-dirinya-sendiri sebagaimana sudah dirintis oleh Auguste Comte (Comtian humanism), dan berpuncak pada Fascisme.
Pengertian humanisme yang diikuti Sartre adalah pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang mampu mengejar tujuan-tujuan transenden. Karena manusia adalah makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri, self-surpassing, dan mampu meraih obyek-obyek hanya dalam hubungannya dengan ke-self-surpassing-annya, maka ialah yang menjadi jantung dan pusat dari transendensinya (bukan dalam pengertian bahwa Tuhan adalah Yang Transenden, namun dalam pengertian self-surpassing). Dan relasi antara transendensi manusia dengan subjectivitas (dalam pengertian bahwa manusia tidak tertutup dalam dirinya sendiri melainkan selalu hadir dalam semesta manusia) itulah yang disebut Sartre dengan existential humanism. Ini disebut humanisme karena mengignatkan kita bahwa manusia adalah legislator bagi dirinya sendiri; betapapun ditinggalkan (abandoned) ia harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Bukan dengan berbalik pada dirinya sendiri, namun dengan mencari, sembari melampaui dirinya, tujuan yang berupa kemerdekaan atau sejumlah realisasi tertentu, manusia bisa sampai pada kesadaran bahwa dirinya adalah sungguh-sungguh manusia. Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam terang pengertian inilah Sartre berani mengatakan bahwa eksistensialisme itu optimistis, bukan sebuah ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan masuk ke pertapaan guna menemukan kedamaian jiwa, melainkan sebuah ajaran untuk bertindak[19] secara konkret dalam dunia nyata, dunia sehari-hari, dunia umat manusia.
Kritik dan tanggapan atas pandangan Sartre
Jeff Mason dalam tulisannya di philosophers.net[20] pernah mengatakan bahwa lebih indah dan lebih aman bagi manusia jika ia memiliki esensi lebih dulu daripada eksistensi. Ia dapat beristirahat dengan damai dalam relung nasib dan tidak perlu berjuang dengan susah-payah untuk mendefinisikan diri. Kalau itu yang terjadi, tidak perlu ada pilihan-pilihan eksistensialis, tidak akan ada tanggungjawab yang tak terpikul, tidak akan ada kecemasan yang mengalir. Kiat tinggal berharap akan imortalitas dan dunia “di sana.” Namun justru di sinilah kritik Sartre masuk dan mengena. Kita tidak bisa menipu diri sendiri (self-deception atau istilah Sartre mauvaise foi) dengan menghindar dari tanggungjawab pelibatan (engagement), lebih-lebih dalam artian sosial-politis. Walter Kaufmann bagaimanapun juga menafsirkan situasi manusia yang Sartre bangun dengan filsafatnya sebagai situasi yang absurd dan tragis. Dunia Sartre lebih dekat dengan dunia Shakespeare yang tragis-melankolis daripada dunia dalam pandangan Buddhist di mana life follows on life and salvation remains always possible[21].
Ada situasi-situasi tertentu di mana apapun keputusan dan pilihan yang kita buat, kita tidak bisa lari dari rasa bersalah. Walau demikian, dalam rasa bersalah dan kegagalan itu manusia tetap dapat mempertahankan integritasnya dan memberontak terhadap kungkungan-kungkungan maupun ancaman-ancaman yang datang dari dunia[22].
Mengenai kebebasan sebagaimana didewakan Sartre dalam mengartikan eksistensi eksistensi=kebebasan), kita mungkin bisa meratap bersama John Macquarrie yang mengatakan bahwa semakin kita berbicara tentang kebebasan, semakin kebebasan itu tidak menjadi jelas artinya karena sifatnya yang elusif[23]. Sudah barang tentu, Sartre agak naïve saat mengatakan bahwa manusia itu bebas secara total dan sepenuhnya menentukan dirinya sendiri. Frederick Copleston lebih realistis tatkala berkomentar bahwa kebebasan kita itu sudah barang tentu dibatasi oleh segala macam faktor-faktor baik internal maupun eksternal. Apa saja misalnya? Faktor-faktor fisik dan psikis, lingkungan, pemeliharaan, pendidikan, tekanan sosial yang dihimpitkan pada kita secara terus menerus tanpa kita sadari[24] (atau bagi saya, lebih tepatnya, tatkala kita masih belum sampai pada tahap kesadaran untuk menyadari sesuatu yang membentuk diri kita). Mungkin yang baik saya anjurkan di sini, belajar dari Sartre, adalah  bahwa manusia itu dalam menentukan dirinya, ia terbuka terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan (opennes to possibilities). Dalam ruang kemungkinan-kemungkinan yang tanpa batas itulah manusia eksis, bertindak, mewujudkan dirinya dan setia terhadap janjinya (komitmen) dalam mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dan manusiawi. Dalam konteks sejarah di mana Sartre hidup (dunia yang dicabik-cabik oleh dua perang dunia, invasi tentara Jerman ke kota Paris pada tahun 1940, kekejaman NAZI atas nama ‘kemanusiaan’ demi pemurnian ras yang berujung pada puncak tragedi kemanusiaan selama abad ke-20 yaitu peristiwa Holocaust.) kritik dan filsafat Sartre ini memang kuat bersuara dan dengan lantang mengkritik orang-orang yang menipu dirinya sendiri, khususnya para penguasa/régime yang menyalahgunakan kekuasaannya dan melecehkan harkat kemanusiaan, entah dengan excuse ilmiah dan demi kemajuan (lalu bertindak kejam dan absurd) maupun dengan menghindar dari tanggungjawab sosial sembari berkata “kami tidak bisa berbuat apa-apa. Itu di luar kuasa kami. Itu sudah merupakan keniscayaan sejarah.”
Kini, puluhan tahun sesudah Sartre menerbitkan bukunya Existentialism and Humanism, kita dipanggil untuk menemukan otentisitas (authenticité) diri kita sebagai individu di tengah kepungan fenomena massa yang tanpa identitas dan juga dalam arus kemajuan teknologi-informasi yang semakin cepat berkembang di satu sisi namun juga semakin cepat mendevaluasi martabat manusia di sisi lain; dalam budaya pop yang menyetir keinginan-keinginan manusia dan pada gilirannya menentukan diri manusia (dan berarti merampas hak manusia untuk menentukan dirinya sendiri: self-determination). Bagaiamanapun, pesan filosofis dan analisis Sartre atas situasi manusia pada zamannya masih tetap relevan hingga kini.

Daftar Pustaka:

Acuan Utama:
Sartre, Jean-Paul. Existentialism and Humanism. (Translated from ‘L’Existentialisme est un humanisme’, Paris: Les Editions Nagel (1946), Introduction by Philip Mairet). London: Eyre Methuen Ltd (1948).

Acuan Sekunder:
Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Jilid II: Prancis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (1996), hlm. 81-120.
Copleston, Frederick. A History of Philosophy: From Bergson to Sartre; Chapter XVI ∓mp; XVII: The Existentialism of Sartre. Garden City, Doubleday Co.: Image Books. 1962. Hlm. 340-389.
Kaufmann, Walter. Existentialism from Dostoevsky to Sartre. Cleveland: The World Publishing Company. 1956.
Macquarrie, John. Existentialism. Middlesex-England: Penguin Books. 1972.
Mason, Jeff. Sartre”s Existential Humanism Part 1 taken from http://www.philosophersnet.com/article.php?id=172

Catatan Kaki

[1] Jean-Paul Sartre, Existentialism and Humanism. Translated from ‘L’Existentialisme est un humanisme’, Paris: Les Editions Nagel (1946), Translation and Introduction by Philip Mairet, London: Eyre Methuen Ltd, 1948.
[2] Pada bagian pengantar ini, penulis mengutip sebagian dari deskripsi historis yang disampaikan Prof. Dr. K. Bertens dalam Filsafat Barat Abad XX Jilid II: Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996, hlm. 84-86.
[3] Keyakinan ini sudah dikatakan oleh Sartre di bagian paling awal dari bukunya tersebut, “Tujuan saya menulis buku ini adalah untuk membela eksistensialisme dari sejumlah kritik yang ditujukan padanya.” (ibid. hlm. 23)
[4] Pengertian Quietisme di sini, sebagaimana disebutkan Sartre sendiri, adalah sikap orang yang berkata “biarkan orang lain mengerjakan apa yang tidak bisa kukerjakan.” (ibid. hlm. 41) Quietisme di sini dekat dengan pengertian non-doing, atau bahkan, seperti yang sering dikritik Sartre, cara hidup abad pertengahan: via contemplativa. Dan bukan via activa, hidup yang melibatkan diri dengan persoalan real yang dihadapi masyarakat, termasuk menceburkan diri ke dalam alam politik. Untuk pembedaan yang lebih terelaborasi mengenai tema ini (via activa vs. via contemplativa), lihat karya Hannah Arendt, The Human Condition, New York: Double Day Press, 1957.
[5] Ibid., hlm. 24, “The essential charge laid against us is that of over-emphasis upon the evil side of human life.” Di tempat lain ia mengatakan bahwa ada sejumlah orang yang mengeluh, “that existentialism is too gloomy a view of things.” (ibid., hlm. 25)
[6] Ibid. Di sini Sartre agak humoris dengan mengambil contoh dari seorang wanita yang saat terkaget atau sedang stress lalu mengumpat dengan kata-kata vulgar,  dan setelahnya memaafkan dirinya dengan berkata “I believe I am becoming an existentialist.”
[7] Ibid.,  hlm. 25-26.   [8] Ibid.,  hlm. 46.    [9] Ibid., hlm. 26.
[10] Yang dimaksud dengan paper knife ini bisa jadi berupa cutter (pemotong kertas) atau pembuka surat yang bentuknya memang seperti pisau tetapi ujungnya majal. Namun yang penting di sini bukan contoh benda konkretnya melainkan bagaimana Sartre menjelaskan analogi eksistensi dan esensi dengan menggunakan contoh benda-benda konkret.
[11] Ibid., hlm. 28. pantas dikutip secara panjang lebar di sini apa yang dikatakan Sartre, yang menurut hemat saya, menjadi  pemikiran sentral Sartre atas siapakah manusia itu. Dikatakan, “What do we mean by saying that existence precedes essence? We mean that man first of all exists, encounters himself, surges up in the world—and then defines himself afterwards. If man as the existentialist sees him is not defineable, it is because to begin with he is nothing. He will not be anything until later, and then he will be what he makes of himself. Thus, there is no human nature, because there is no God to have a conception of it. Man simply is.”
[12] Ibid., hlm. 33
[13] Dostoevsky dalam The Brothers Karamazov sebagaimana diucapkan oleh tokoh utama dalam cerita itu, Ivan.    [14] Ibid., hlm. 41.
[15] Ibid., hlm. 45. Dikatakan di situ, “All kinds of materialism lead one to treat everyman including oneself as an object—that is a set of pre-determined reactions, in no way different from the patterns of qualities and phenomena which constitute a table, or a chair or a stone.”   [16] Ibid., hlm. 54.
[17] Ini kritik Sartre atas humanisme à la Era Pencerahan (Aufklärung) yang terutama berpuncak pada imperatif kategoris Kant yang kedua yang kira-kira berbunyi demikian, “Perlakukanlah manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan bukan sebagai sarana atau alat untuk mencapai sesuatu”
[18] oleh dirinya sendiri dan bukan oleh kategori-kategori yang dipaksakan dari luar dirinya seperti dari tradisi atau pepatah bijak masa lalu.    [19] Sartre, op. cit., hlm. 56.
[20] Jeff Mason, Sartre”s Existential Humanism Part 1 taken from http://www.philosophersnet.com/article.php?id=172
[21] Walter Kaufmann, Existentialism from Dostoevsky to Sartre, Cleveland: The World Publishing Company, 1956, hlm. 47
[22] Bisa dibandingkan dengan integritas tokoh Ibbieta yang teruji di hadapan maut (regu tembak) dalam Novel “Dinding” (Le Mur, Editions Gallimard, 1939, hlm. 9-35) karya Sartre
[23] John Macquarrie, Existentialism , Middlesex-England: Penguin Books, 1972, hlm. 138. Dikatakan di situ, “But how can we talk at all of freedom or try to conceptualize it? However we try to grasp it, it seems to elude us. However precious we may esteem it, by its very nature it is insubstantial and fleeting.”
[24] Frederick Copleston, A History of Philosophy: From Bergson to Sartre; Chapter XVI ∓mp; XVII: The Existentialism of Sartre, Garden City, Doubleday Co.: Image Books, 1962, hlm. 355

Pemikiran Auguste Comte

Ia lahir tahun 1798 di kota Monpellier Prancis Selatan, berasal dari kelas menengah, anak dari orang tua yang menjadi pegawai kerajaan dan penganut agama Katolik yang saleh. Ia menikahi Caroline Massin, seorang bekas pelacur, yang nampaknya kemudian disesali, karena ia pernah menyatakan bahwa perkawinan itu adalah satu-satunya kesalahan besar dalam hidupnya. Selama dua tahun, dari 1914 hingga 1916 Comte belajar di Sekolah Politeknik di Paris.

Tahun 1817 diangkat menjadi sekretaris Saint Simon, seorang pemikir yang dalam merespon dampak negatif renaissance menolak untuk kembali ke abad tengah, melainkan justru harus direspon dengan membangun basis intelektual baru, yakni berfikir empirik dalam mengkaji persoalan realitas sosial. Pemisahan diri dengan Saint  Simon terjadi manakala Comte kemudian menerbitkan buku “Sistem Politik Positif” tahun 1824. Pada tahun 1830 seri “Filsafat Positif”
yang ia susun diterbitkan, dan kemudian menyusul seri-seri berikutnya sampai dengan tahun 1842. Comte itulah yang kemudian dianggap pertama kali memakai istilah Sosiologi- meski bahwa yang sesungguhnya lebih tepat menjadi sumber awal sosiologi adalah tokoh semacam Adam Smith atau pada umumnya kaum Moralis Scottish. 19
Sejak kecil Comte telah menunjukkan diri sebagai seorang yang berpikiran bebas, mempunyai kemampuan berpikir, penganut republik yang militan, skeptis terhadap ajaran-ajaran Katolik , dan kritis terhadap mahagurunya. Pemikiran-pemikiran Comte banyak dipengaruhi pemikiran gurunya Saint Simon. Kemudian dipengaruhi oleh Revolusi Prancis. Pemikiran Comte muncul dilatar belakangi oleh Revolusi Perancis. Ia menilai bahwa revolusi terjadi akibat pencerahan yang terjadi pada saat itu, yang menimbulkan anarkisme.

Bagaimana Pemikiran Auguste Comte terhadap Pendidikan

Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan mannusia dan gejala sosial dapat digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.

Juga melihat bahwa masyarakat sebagai suatu keseluruhan organis yang kenyataan lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Dan untuk mengerti kenyataan ini harus dilakukan suatu metode penelitian empiris, yang dapat meyakinkan kita bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik.

Hukum Evolusi Tiga Tahap

Dalam memahami krisis, Comte berpendapat harus melalui pedoman-pedoman berpikir ilmiah. Ia juga banyak dipengaruhi oleh filsafat sosial Encyclopedist Perancis, aliran reaksioner, dan sosialistik. Ia kemudian dikenal sebagai pencetus perspektif pengetahuan positivisme atau filsafat positifistik, sebagai bentuk perlawanan terhadap filsafat dan cara berfikir yang melandasi para filosof pencerahan. Comte berada dalam posisi yang sejalan dengan gerakan antirevolusi kaum Katolik- terutama dari de Bonald dan de Maistre.

Dua hal yang dapat dicatat dalam hal ini adalah: pertama, ia tidak mempunyai bayangan untuk berfikir kembali ke abad pertengahan, karena perkembangan industri dan pengetahuan jelas tidak memungkinkan hal itu; kedua, ia menngembangkan sistem teoritikal yang menarik ketimbang para pendahulunya sehingga lebih memadai sebagai dasar pijakan pemikiran awal sosiologi. Sebagai wujud perlawanannya terhadap filsafat negatif yang mendasari pencerahan dan revolusi Perancis, Comte secara tegas menolak perubahan revolusioner. Dia menganjurkan perubahan evolusi. Revormasi memang dibutuhkan sejauh membantu proses evolusi itu sendiri.

Teori evolusi inilah kemudian yang mendorong lahirnya hukum tiga tahap perkembangan (the law of the three stages), dan ia percaya bahwa semua ilmu pengetahuan melampaui ketiga tahap tersebut sesuai dengan tingkat kompleksitas mereka masing-masinng. Ia percaya bahwa ilmu positivis yanng berjaya di dalam dunia matematik, astronomi, fisika, dan biologi haruslah dapat diberlakukan dalam dunia politik yang pada muaranya kemudian masuk kepada pengetahuan sosial positif, yang ia sebut dengan sosiologi.

Ketiga tahap pengetahuan yanng dimaksud Comte itu tiada lain adalah :

 Tahap Teologis

Dalam tahap ini masyarakat percaya akan kekuatan supernatural, dan agama diatas segala-galanya. Manusia menempatkan diri sebagai peserta, yang dalam istilah Bruhl disebut dengan mental partisipasi, dimana manusia dalam hidupnya tidak bisa lebih selain ikutserta dalam proses-proses kosmos yang dikendalikan oleh gagasan-gagasan keagamaan. Dunia fisik maupun sosial dipandang sebagai produk Tuhan. Bentuk-bentuk pemikiran tahap awal perkembangan atau evolusi manusia ini antara lain adalah fetishisme dan animisme yang menganggap alam semesta ini berjiwa. Benda-benda dianggap sebagai sosok partikular, unik, individual dan bukan sesuatu yang abstrak dan umum. Dunia dihayati sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus, sebagai cermin penghayatan keilahian manusia purba.

Masih dalam tahap teologis, namun sedikit lebih maju adalah faham politeisme, yang mulai menyatukan dan mengelompokkan semua benda dan kejadian alam dengan berdasar pada kesamaan-kesamaannya. Politeisme dengan demikian menggambarkan upaya manusia untuk berfikir lebih teratur, tertib dan juga lebih sederhana dalam memandang alam semesta yang beraneka ragam. Evolusi kearah fikiran yang lebih tertib itu kemudian sampai juga kepada pandangan monotheisme, yang mampu berfikir lebih sistematik. Kekuatan yang pusparagam itu disederhanakan menjadi satu Tuhan yang berdaulat penuh dan berkuasa mutlak atas langit dan bumi.

2. Tahap Metafisika

Dalam tahap ini masyarakat berkeyakinan bahwa kekuatan abstrak dan bukan personikasi Tuhan adalah sumber kekuatan fisik maupun sosial. Dengan kata lain, dalam mencoba menjelaskan berbagai peristiwa dan fenomena alam, manusia mencoba melakukan abstraksi dengan kekuatan  akal-budinya, sehingga diperoleh pengertian-pengertian metafisis. Prinsip-prinsip penjelasan tentang realitas, fenomena dan berbagai peristiwa dicari dari alam itu sendiri. Namun, oleh karena penjelasan yang dilakukan belum bersifat empirik, maka cara menjelaskan berbagai realm, kemudian itu tidak berhasil membuahkan ilmu pengetahuan baru, dan belum dapat menjelaskan hukum alam, kodrat manusia, keharusan mutlak dan berbagai pengertian lainnya.

Sehingga, menurut Comte, cara berfikir metafisik ini sebenarnya adalah pengertian nama saja dari cara berfikir teologis. Baginya, cara berfikir manusia harus keluar dari tradisi teologis maupun metafisik untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai sarana mencari kebenaran.

3. Tahap Positif

Pada akhirnya perkembangan masyarakat memasuki tahap positivistic, tahap masyarakat  mempercayai pengetahuan ilmiah, dan manusia berkonsentrasi pada kegiatan observasi untuk menemukan keteraturan dunia fisik maupun sosial.

Pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas dasar metode empirik. Manusia tumbuh menjadi kekuatan yang mampu menggunakan akal budinya untuk menemukan pengetahuan baru. Dalam tahap inilah pemikiran positivistik, empirik dan naturalistik menggantikan otoritas pengetahuan teologis, serta pengetahuan metafisis. Orde empirik, yang disadarkan kepada pencerahan akal budi, seperti yang dimimpikan oleh Rene Descartes (1596-1950) muncul ke permukaan sehingga menandai dimulainya suatu perubahan cara hidup manusia yang baru. Cara berfikir spekulatif, normologik, harus menyerahkan otoritas hegemoniknya kepada dominasi berfikir empirik, cara berfikir yang menganut pengetahuan naturalistik.

Dalam sebuah tulisannya ; Comte menyatakan bagaimana cara berfikir modern menolak filsafat dimasa-masa sebelumnya.

Jika kita merenungkan semangat positive dikaitkan dengan konsep ilmiah, kita akan menemukan bahwa filsafat ini berbeda dengan theologico-methaphisical karena berkecenderungan untuk menggambarkan ide-ide relative, ide-ide yang semula adalah absolut. Bagian yang tak terelakkan dari absolut menuju yang relative ini adalah salah satu hasil dari filsafat yang sangat penting dari setiap revolusi intelektual yang telah dilakukan dalam setiap bentuk spekulasi dari teologi atau metafisikal menuju ranah berfikir ilmiah. Dlam pandangan ilmiah, perbedaan antara relative dan absolute itu dapat dianggap sebagai manifestasi dari penolakan yang jelas dari filsafat modern terhadap filsafat dimasa lalu.

Berkaitan dengan kecenderungannya untuk menelusuri ilmu pengetahuan atas dasar hukum-hukum keteraturan alam, Comte menyatakan:

Cukup lama manusia belajar bahwa kekuatan manusia memodifikasi fenomena hanya akan berhasil jika melalui pengetahuannya tentang hukum alam; dan ketika berhadapan dengan ketidak dewasaan pengetahuan, mereka yakin bahwa dirinya mampu mengerahkan kekuaatannya yang tak terbatas. Menghadapi fenomena pengetahuan semacam itu kita menyaksikan aliran metafisikal, menganggap peristiwa-peristiwa yang bisa diamati sebagai kebetulan, dan kadang-kadang metode yang ditawarkannya nampak snagat absurd, melecehkan kekuatan akal budimanusia dalam memahami kehidupan manusia. Aliaran ini memperlihatkan tindakan sosial manusia menjadi tidak pasti dan arbitrary, termasuk dalam memerikan gejala biologi, kimia, fisika, dan bahkan asttronomi, pada tahap awal perkembangan pengetahuan yang mereka miliki.

Disitu tidak ada peluang menumbuhkan keteraturan dan konsensus. Prosedur (positive) adalah basis pengetahuan dalam kehidupan manusia; karena kecenderunngan watak mannusia yang menghendaki karakteristik otoritas yang sebenarnya yanng harus dipenuhi dengan menempu hukum rasional.

Oleh karena itu Comte beranggapan bahwa pengetahuan sosial mensyaratkan subornasi observasi terhadap hukum statik maupun dinamik suatu fenomena. Tidak ada fakta sosial yang mampu menghasilkan pengetahuan ilmiah kecuali ia dikaitkan dengan fakta-fakta sosial yang lain. Tanpa menghubungkan masing-masing fakta sosial tersebut, hanya akan melahirkan anekdot, dan tidak akan memberi manfaat apa-apa terhadap kebutuhan rasional. Dengan demikian, formasi teori sosial memerlukan pemikiran yang terorganisir, dipersiapkan dengan cara-cara berfikir rasional yang terlatih.

Dalam membanngun teori sosiologi, Comte lebih memilih unit analisis makro (obyektif) dan bukan individu, dalam hal ini entitas yang lebih besar seperti keluarga, struktur sosial dan perubahan sosial. Ia menganjurkan untuk keluar dari pemikiran abstrak dan melakukan riset dengan metode eksperimentasi dan analisis perbandingan sejarah. Ia berjasah meletakkan dasar perkembangan teori sosiologi positivistik. Comte pada intinya berargumentasi bahwa gagasan terdahulu yang mendasari pengembangan struktur masyarakat maupun negara, atas dasar pemikiran spekulatif, sudah tidak relevan dengan munculnya pemikiran positive. Konsep-konsep rasional datang menggantikan, dngan mengajarkan bahwa sejarah manusia adalah sejarah perkembanngan bertahap dari cara berfikir manusia itu sendiri. Sejarah perkembangan manusia adalah bersift mutlak, universal dan tak terelakkan. Sehingga, dengan demikian, Comte membuka keyakinan baru tentang peran manusia yang lebih optimistik. Dengan pemikiran empirik, rasional dan positive manusia akan mampu menjelaskan realitas kehidupan, tidak secara spekulatif, arbitrary, melainkan secara kongrit, pasti dan bukan mutlak.

Gagasan tentang adanya ketiga tahap tersebut, walaupun merupakan suatu fiksi memberikan penerangan terhadap pikiran manusia, serta secara psikologis merupakan suatu perkembangan yang penting. Ketiga tahap tadi dapat memenuhi pikiran manusia pada saat yang bersamaan dimana kadang-kadang timbul pertentangan-pertentangan. Pertentangan-pertentangan tersebut sering kali tidak disadari manusia sehingga timbul ketidakserasian. Selanjutnya mengaitkan industrialisasi dengan tahap ketiga dari perkembangan pikiran manusia. Secara logis, maka dalam masa industrialisasi tersebut akan terjadi perdamaian yang kekal. Itulah asumsi Comte, karena tahap-tahap sebelumnya ditandai dengan adanya masa perbudakan dan militeralisme yang penuh dengan pertikaian.

Hal yang menonjol dari sistematika Comte adalah penilaiannya terhadap sosiologi, yang merupakan ilmu pengetahuan paling kompleks, dan merupakan suatu ilmu pengetahuan paling kompleks, dan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang akan berkembang dengan pesat sekali.

Sosiologi merupakan suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial. Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dengan dinamis.

Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar dari adanya masyarakat. Studi ini merupakan semacam anatomi sosial yang mempelajari aksi-aksi dan reaksi timbal balik dari sistem-sistem sosial. Cita-cita dasar yang menjadi latar belakang sosiologi statis adalah bahwa semua gejala sosial saling berkaitan, yang berarti bahwa percuma untuk mempelajari salah satu gejala sosial secara tersendiri. Unit sosial yang penting bukanlah individu, tetapi keluarga yang bagian-bagiannya terikat oleh simpati. Agar suatu masyarakat berkembang simpati harus diganti dengan kooperasi, yang hanya mungkin ada apabila terdapat pembagian kerja.

Sosiologi dimanis merupakan teori tentang perkembangan dalam arti pembangunan. Ilmu pengetahuan ini menggambarkan cara-cara pokok dalam mana perkembangan manusia terjadi dari tingkat intelegensia yang rendah ketingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian, dinamika menyangkut masyarakat-masyarakat untuk menunjukkan adanya perkembangan. Comte yakin bahwa masyarakat akan berkembang menuju suatu kesempurnaan. Walaupun demikian Comte sebenarnya lebih mementingkan perubahan-perubahan atau perkembangan dalam cita-cita dari pada bentuk. Akan tetapi, dia tidak menyadari betapa perubahan cita-cita akanmengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan bentuk pula.

Comte sangat peduli terhadap dampak renaissance, yang dengan munculnya revolusi industri mengubah tertib sosial yang dibanngun atas dasar pola agraris dan digantikan dengan tatanan masyarakat industri. Perubahan ini menimbulkan konflik dan bahkan krisis akibat terjadinya benturan antara masyarakat tradisional dengan masyarakat industri baru. Jika de Bonald dan de Maistre menginnginkan penyelesaian krisis dengan cara kembali menata kehidupan seperti yang dilakukan masyarakat abad tengah, maka Comte memandang bahwa krisis itu pada saatnya akan dapat kembali memperoleh penyelesaian dan bahkan keseimbangan. Oleh karena itu yang lebih penting kemudian adalah membangun basis pemikiran baru, yakni dengan logika positivistik.

Logika inilah yang kemudian melahirkan masyarakat industri, yang menekankan pentingnya rasionalisasi proses kerja sehingga manusia kemudian mampu memaksimalkan kinerjanya ; juga menekankan pentingnya penemuan ilmu pengetahuan terutama pengetahuan alam untuk menguasai berbagai sumber daya alam bagi kepentingan dan kemakmuran umat manusia. Berkembangnya industri melahirkan konsentrasi manusia disekitar pabrik dan tambang serta di sektor perkotaan yang mendorong urbanisasi; industrialisasi juga melahirkan liberalisasi di bidang ekonomi.

Dari sinilah optomisme Comte itu kemudian berujung, yakni membawa manusia kepada kehidupan yang penuh dengan persaingan, menekan kepada semangat individu, antagonisme kaum tradisional dengan kaum industri baru berlanjut kepada antagonisme antar kelas, antara yang proletar dengan kaum bermodal. Disisi lain terjadi over produksi dan juga over populasi dengan membawa berbagai dampak yang ditimbulkan.

Oleh karena itu optimisme Comte ini kemudian tak kuasa membendung munculnya kritik. Sebagaimana dicatat sejarah, dikemudian hari muncul berbagai kritik; antara lain, ia dinilai cenderung elitis dan konservatif. Analisis biologik yang ditransformasikan kedalam analisis sosial dinilai sebagai akar dari terpuruknya nilai-nilai spiritual dan bahkan kemanusiaan lantaran manusia terreduksi kedalam pengertian fisik-biologik. Dilihat secara keseluruhan, karya Comte memperlihatkan banyak dilema dan ketegangan, misalnya antara stabilitas dan kemajuan, antara perspektif ilmiah deterministik dan perspektif moral humanistik. Pembenaran terhadap hak milik perseorangan atas sarana-sarana produksi telah menyebabakan konsentrasi kaum buruh tanpa peluang memiliki terjadi secara besar-besaran dan dilain pihak terjadi penumpukan modal besar ditangan segelintir orang adalah salah satu bentuk dilema masyarakat rasional itu.

Dalam usaha keluar dari ketegangan itu nampak Comte mengidap bias determinisme sehingga mengabaikan faktor-faktor sosial dan moral. Disamping itu, ia cenderung menekankan kepada pentingnya stabilitas dalam ranah teoritik maupun empirik, sehingga faktor-faktor pertentangan atau konflik dalam struktur masyarakat tidak memperoleh perhatian sebagai mana mestinya.

Demikian pula, hukum tiga tahap yang diperkenalkannya tidak saja mengesankan dia sebagai teoritisi yang optimis, tetapi juga terkesan linear seakan setiap tahapan sejarah evolusi merupakan batu pijakan untuk mencapai tahapan berikutnya, untuk kemudian bermuara pada tujuan akhir yang final yang dia gambarkan berwujud masyarakat positivistik. Bias teoritik seperti itu menjadikannya tidak memberi ruang bagi realitas yang berkembang atas dasar siklus yakni realitas sejarah berlangsung berulang-ulang, tanpa harus membayangkan titik akhir sebuah tujuan sejarah yang final.

Kepercayaan Comte akan masa depan membuatnya meremehkan hal-hal negatif antagonistik, krisis spiritualitas dan berbagai dampak seperti timbulnya kemiskinan. Kesemua itu hanya dipandang sebagai sesuatu yang bersifat sementara, toh pada saatnya akan terpecahkan dengan sendirinya. Bagaimanapun keadaan akan berubah kearah harmoni.

Padahal dalam praktek jumlah kemiskinan, krisis dengan berbagai bentuk, termasuk kekerasan tetap saja menyeruak ke permukaan. Hal-hal yang dianggap Comte baik, maju (progresive) itu berubah menjadi paradoks, yang mengundang orang semacam Karl Marx dan lain-lain mengecamnya.

Auguste Comte pertama-tama memakai istilah sosiologi adalah orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang llingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahauan lainnya. Dia menyusun suatu sistematika dari filsafat sejarah dalam kerangka tahap-tahap pemikiran yanng berbeda-beda.

KESIMPULAN

Pendidikan dilahirkan dari pencarian jawaban atas fenomena alam maupun sosial sendiri, hal ini sebagaimana bentuk  kristalisasi oleh hukum positivisme oleh Aguste Comte. Peran pendidikan ini sendiri sangat berguna bagi kehidupan manusia dalam proses pemenuhan  kebutuhan akan pengetahuan. Aguste Comte sendiri menyakini bahwa terciptanya akan pendidikan lebih penting dari kebutuhan lain. Pendidikan dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dikarenakan perkembangan peradaban yang semakin maju dan tekhnologi yang semakin canggih diwujudkan karena adanya pendidikan itu sendiri. Pendidikan ini juga August Comte menjelaskan bahwa fenomena sosial dapat dipelajari sebagai entitas lain dengan memakai metode ilmu pengetahuan yang hasilnya bisa sama akuratnya dengan hasil penelitian ilmiah. Begitu para ilmuan dapat memahami hukum tentang perillaku manusia, mereka dapat meramalkan atau menegendalikan kejadian atau peristiwa sosial. Dikatakan Comte, dalam memahami masyarakat, perlu mengetahui sumber keutuhan, kestabilan dan kesinambungan masyarakat, disamping sumber perubahan masyarakat. Kendatipun Comte berjasa dalam meletakkan dasar sosiologi, beliau tidak terlalu berpengaruh terhadap pemikiran para ilmuan sosiologi yang muncul kemudian.

Daftar Pustaka,

Maliki, Zainuddin, SOSIOLOGI PENDIDIKAN, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta,2008

Kehendak Berkuasa Nietzsche

Pemikiran Filsafat Friedrich Nietzsche – Aforisme Orang Gila

Menatap sejarah masa depan mengisyaratkan kita untuk melirik kepada pemikiran si rajawali eksistensialisme, Frederich Nietzsche.  Sebagai seorang “dyanosian” yang antipati terhadap moralitas kristenitas, ia mendesain suatu pemikiran dengan mengisyaratkan keharusan untuk curiga terhadap nilai-nilai yang ada. Tugasnya antara lain adalah mengkritisi kecenderungan manusia terjebak ke dalam dogma, keyakinan dan ideologi indoktriner tertentu.

Dalam desain masa depannya, Nietzshe menggeser status ontologis dan makna eksistensial manusia ke spektrum tertinggi humanitas.  Untuk obsesi ini, Nietzsche  memproklamasikan suatu maklumat  kematian Tuhan. Tindakan ini mutlak dilakukan untuk membidani lahirnya humanitas baru.

“Tidakkah kau dengar orang gila yang menyalakan pelita di pagi yang cerah. Dia berlari menuju alun-alun kota, dan tidak henti-hentinya berteriak: “Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan”. Ketika orang banyak yang tidak percaya pada Tuhan, datang mengerumuninya, orang gila itu mengundang  gelak tawa”.  Apakah  dia ini orang yang hilang?, tanya seseorang. Apakah ia tersesat  seperti anak kecil? Apakah  ia   baru saja mengadakan pelayaran? Apakah ia seorang perantau? Demikianlah mereka saling bertanya sinis dan tertawa. Orang gila itu lalu melompat dan menyusup ke tengah tengah kerumunan dan menatap mereka dengan pandangan yang tajam. ‘Mana Tuhan?’, serunya. ‘Aku hendak berkata kepada kalian. Kita telah membunuh Tuhan – kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya.  Bagaimana mungkin kita telah melakukan perbuatan semacam ini? Bagaimana mungkin kita meminum habis lautan? Siapakah yang  memberikan penghapus kepada kita untuk melenyapkan seluruh cakrawala? Apa yang kita lakukan jikalau kita melepaskan bumi dari mataharinya? Lalu kemana bumi ini akan bergerak? Kemana kita bergerak? Menjauhi seluruh  matahari? Tidakkah kita jatuh terus-menerus? Ke belakang, ke samping, ke depan, ke semua arah? Masih  adakah  atas dan bawah?. Tidakkah kita berkeliaraan melewati ketiadaan yang tak terbatas?  Tidakkah  kita merasa menghirup ruangan yang kosong? Bukankah hari sudah menjadi semakin dingin? Tidakkah malam  terus menerus semakin  meliputi kita? Bukankah pada siang hari lentara pun kita nyalakan? Tidakkah kita mendengar kebisingan para penggali liang kubur yang sedang memakamkan Tuhan? Tidakkah kita mencium bau busuk Tuhan, ya para Tuhan pun membusuk! Tuhan telah mati, Tuhan tetap mati!. Dan kita telah membunuhnya!.

Bagaimana kita  –  para pembunuh –  merasa terhibur? Dia yang Maha Kudus dan Maha Kuasa yang dimiliki dunia ini kini telah mati kehabisan darah, karena pisau-pisau kita – Siapakah yang hendak menghapuskan darah ini dari kita? Dengan air  apakah kita dapat membersihkan diri kita? Pertayaan taubat apa, pertunjukan kudus apa yang harus kita andalkan? Bukankah kedahsyatan tindakan ini terlalu  berat bagi kita? Tidakkah  kita harus menjadikan diri kita sendiri sebagai Tuhan? Supaya tindakan ini kelihatan  bernilai? Belum pernah ada perbuatan yang lebih besar, dan siapa yang lahir setelah kita, demi tindakan ini akan termasuk ke dalam sejarah yang lebih besar dari seluruh sejarah sampai sekarang ini!.
Sampai di sini orang gila lalu diam dan kembali memandang para pendengarnya; dan mereka pun diam dan dengan keheran-heranan memelototinya. Akhirnya orang gila membuang pelitanya ke tanah, dan pelita itu hancur, kemudian padam. ‘Aku datang terlalu awal’, katanya kemudian.. ‘Waktuku belum tiba’. Peristiwa yang dahsyat ini masih terus berjalan, masih terus berkeliaran dan belum sampai pada telinga orang-orang. Kilat dan guntur memerlukan waktu, cahaya  bintang-bintang memerlukan waktu, tindakan – meskipun sudah dilakukan – masih memerlukan waktu untuk dapat dilihat dan didengar. Tindakan ini masih lebih jauh dari mereka, daripada bintang-bintang yang paling jauh, namun mereka telah melakukannya untuk diri mereka sendiri.
Masih diceritakan lagi bahwa pada hari yang sama orang gila itu nekat masuk ke dalam berbagai gereja, dan di sana menyanyikan lagu requitem aeternam deo (Istirah Kekal bagi Tuhan). Setelah keluar dan diminta pertanggung jawaban,  dia hanya selalu menangkis dan berkata: ‘Apalagi gereja-geraja ini kalau  bukan makam bagi nisan-nisan  bagi Tuhan?!.

Maklumat pembunuhan Tuhan bergaung dalam bentuk yang bervariasi. Masa akut anomali pemikiran, disorientasi nilai, sekularitas, krisis iman. Distorsi kehidupan agama, desakralisasi  dunia transendental, penggusuran tanpa ampun habitat dan kerahiman Tuhan, adalah lahan subur bagi implementasi Nietzschean.

Dekonstruksi dan anti logosentrime dan narasi agung Lyotardian bersambut dengan gagasan ateistik Nietzsche. Dalam pada itu, diperlukan suatu kedewaan budi. Antisipasi dan pemikiran proyektif Nietzchean patut untuk didengarkan. Makna ultimo yang dikandungnya memang menohok, akan tetapi makna ultimo manusia yang dikandungnya mutlak  untuk didengarkan. Impuls dan opsi “Dyonisian”  tidak perlu dicurigai dan sebaliknya diarahkan menuju penataan suatu dunia yang  lebih human. Aporisme “Orang Gila” mutlak dijadikan sebagai suatu refleksi dan kilas balik bagi masa depan. Adalah  naïf  bilamana  mencurigai atau menyingkirkannya. Melalui  “Orang Gila”   penyakit manusia modern dewasa ini dapat dikurangi.

Modernitas menuntut suatu nilai baru. Perjuangan emansipasi individu menjadi opsi dan  semakin tak terbendung.  Tuntutan untuk mendesain  suatu dunia  baru  dengan  segenap kemungkinan untuk  kreativitas, inovasi  dan  keniscayaan  untuk aktualisasi diri.  Singkatnya suatu dunia yang serba  mungkin menjadi opsi baru pula, tanpa meninggalkan  humanitas. Awal abad melenium ketiga, humanitas dipertanyakan. Proyeksi masa depan penuh dengan harapan sekaligus ketidak-pastian. Manusia global berbicara mengenai  moralitas baru, sementara dekadensi moral dan krisis iman  semakin mencekam. Timbul pertanyaan, apakah wajah muram dan  pesimistik abad milenium beroleh terang dari kegilaan Nietzsche?

Sastraprateja dalam Manusia Multi Dimensional, mengatakan bahwa di Amerika terutama berkembang “Teologi Allah (Tuhan) Sudah Mati”. Sindrom Nietzschean semakin berkecambah, Kristenitas  mengalami kegoncangan. Terorisme, pembunuhan dan kebencian, puas terhadap penderitaan orang lain, virus destruktif, patologis masyarakat semakin pula tak terbendung. Reaksi terhadap semua itu  kelompok agama bertindak. Jihad terhadap kebatilan dan ketidak-adilan dinyatakan. Bom bunuh diri menjadi tontonan. Teror, penculikan. Konspirasi politik dan intrik kekuasaan terlegalkan. Kebatilan menjadi legitim. Ada yang mengatakan konsep Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa menjadi sahih. Pandangan ini menyesatkan. Nietzsche sebaliknya menunggikan martabat manusia. Sementara yang disebutkan di atas adalah pengejawantahan dari kekerdilan, kelicikan analog dengan moral budak.  Semua itu merupakan sublimasi dari dekadensi moral sekaligus sebagai musuh kemanusian. Sebaliknya, Nietzsche mengagungkan moral tuan. Penting untuk dicamkan bahwa dibalik keganasan dan  ketegaran hati membunuh Tuhan tersirat suatu nilai humanitas yang patut diacungkan jempol. Dalam formula tersebut, Nietzsche mengajarkan logika kekuasaan. Ia mengutuk kelemahan dan moraltas budak. Ditandaskan bahwa hidup adalah perjuangan.

Dewasa ini humanisme terdistorsi. Pembunuhan menjadi suatu kewajaran. Terorisme  berkecambah. Kekerasan ditolerir. Hukum rimba merajalela, pembunuhan dihalalkan. Dalam kondisi galau seperti ini kita boleh mengkaji pesan-pesan intrinsik dan apokaliptik serta orientasi ateistik Nietzsche.

Dalam sejarahnya, agama membutuhkan tekanan agar senantiasa terjaga, dan tidak terjebak dalam ignoransi pengembalaan. Apa yang enggan disentuh agama dibongkar secara radikal. Banalitasi dunia transendental kegemaran Nietzsche, tak urung membuat agama kaget dan dipaksa mawas diri. Itulah sumbangsih Nietzsche. Adalah Paul Ricoeur, dengan ancangan hermeneutik, dengan menggunakan metode fenomenologi terusik untuk menggali harta karun humanitas warisan Nietzsche.

Ateisme Nietzsche menurut Paul Ricoeuer menghubungkan agama dan iman, dan termaknai secara baru. Kondisi ini disebut sebagai iman post religius. Ateisme merupakan jembatan karena di satu pihak meninggalkan apa yang telah ditolak, yang tidak lagi bermakna dan di lain pihak mengarah ke depan pada yang dituju, pada sesuatu yang baru. Namun Recouer selanjutnya memperingatkan bahwa langkah ini tidak boleh disederhanakan dengan membedakan agama dan iman begitu saja, kemudian dengan memperalat ateisme berusaha menyelamatkan iman.

Sikap filsafat – dan bukan teologi – dalam telaah dialektika agama, ateisme dan iman ini menurut Recouer kita harus berani menempuh jalan baru yang belum jelas arahnya. Nietzsche – menurut Recouer – mencipta suatu jenis hermeneutika khas dan tidak terdapat pada atheis-atheis sebelumnya.  Kritik Nietzsche tidaklah ditujukan pada ide tentang Allah tetapi pertama-tama pada kondisi kesadaran manusia sebagai representasi kultural.

Sebagai “pengajar kecurigaan” Nietzsche menganggap kepercayaan akan Allah adalah ilusi. Ilusi ini  lalu dibongkar. Manusia dikembalikan kepada habitus dan keotentikan dan keagungannya. Sebagai mahluk yang dituntut untuk aktualisasi prinsip “kehendak untuk berkuasa”.

Untuk mencari makna religius yang mungkin terdapat dalam atheisme Nietzsche, tidak bisa dengan cara langsung menghadapi ide tentang Allah. Fenomenolog Paul Recouer, mencoba membandingkan sikap Nietzsche dengan kepekaan religius yang paling purba,  yakni  “keinginan akan hukuman” dan “kedambaan akan perlindungan”. Allah dalam pengalaman religius ini adalah Allah yang tidak hanya menyayangi dan melindungi melainkan juga Allah yang mengadili dan menghukum, yang marah dan cemburu. (Sunardi, 1966).

Maklumat pembunuhan Tuhan mengejawantahkan realitas dan keterpurukan sekaligus kelemahan manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan yang menuntut suatu pertanggung-jawaban. Kebebasan yang diemban manusia begitu berat dan menakutkan, demikian menurut Dostoievsky, terutama bagi manusia pengecut, manusia lemah  dan munafik, bermoral budak sebagaimana  cenderung untuk melarikan diri.

Agama memang sering menjadi pelarian dan mungkin juga menjadi kambing hitam. Akan tetapi sinisme  dan dekonstruksi  terhadap dogmatisme, terhadap nilai dan  terhadap stagnasi agama, yang menjadi musuh Nietzsche penting untuk direnungkan. Paling tidak para rohanian dan institusi yang diserang dan dicerca Nietzsche boleh mendapat gagasan emansiopatoris. Dalam dunia yang sesak kemunafikan, pesimistik, virus teror, labiran anomali, serta disorientasi nilai, ketidak-pastian hidup melalui aporisme “Orang Gila” tampaknya menjanjikan dan penuh harapan. Nietzsche menyodorkan suatu terapheutik. Pemberontakan terhadap fetitisme, hedonisme, dan kemunafikan dan dekadensi moral, kebohongan terkritisi. Pendarasan imani  menjadi suatu keniscayaan. Akan tetapi sebagai suatu refleksi, maklumat tersebut dapat menjadi titik tolak untuk tujuan refleksif.

Dengan semangat amorfati, Nietzsche menyingkap masa depan. Dalam agenda pemikirannya ia memposisikan manusia dalam cahaya “kehendak untuk berkuasa”. Penampilan sosok manusia agung  dengan ketegaran dan tekad untuk mengamini kehidupan, takzim kepada watak “dyonisiak”  bangsa Yunani, Nietzsche mengutuk filsafat Socrates yang telah menebar dekadensi moral dan  degradasi  pemikiran. Kristenitas,  ahli waris Socrates terpuruk dalam kebancian; sujud kepada nasib, submisif dan apologetik terhadap kelemahan dan  kepengecutan.

Dalam kristenitas, demikian Nietzsche, manusia sebagai mahluk agung dan indefinitif dibikin beku dan kerdil di hadapan Tuhan. Dengan dalih dosa awal, manusia telah tersulap menjadi sekedar kawanan domba bermahkotakan moral budak, didalamnya kemunafikan dan kepalsuan terayomi.

Aporisme “Orang Gila” adalah sebuah lantera masa depan berfungsi sebagai platform untuk menstimulir vitalitas dan segenap kemungkinan manusia untuk berkembang. Namun pada umumnya, nubuat dan ajaran Nietzsche didaulat sebagai bi’dah dan dilaknat. Akan tetapi, lepas dari pandangan tersebut aporisme “Orang Gila” mengusung makna equivok. Gagasan yang diusungnya segar, orisinil, sarat dengan makna apokaliptik, penuh passi dan tentu saja menggelitik untuk diakses. Namun apapun alasannya, karya monumental ini, secara tak terbantahkan  tetap aktual untuk dicermati.

Sebagai suatu  karya  yang lugas, berani dan  menantang, sinistik, watak cair dan operasional dan senantiasa terbuka terhadap eksplorasi dan petualangan pemikiran. Didalamnya formula “kehendak berkuasa” terstruktur. Kredo amorfati terintegrasikan pula di dalamnya. Bagi Nietzsche, Formula ini mutlak diaktualisasikan. Watak “dyanosian”, yang dikandungnya, petualangan dan semangat juang stoik, serta fatalistik bangsa Rusia,  adalah  bagian integral dari kehendak untuk berkuasa dijadikan pegangan untuk mengarungi lautan kehidupan. Nietzsche tidak pernah jemu dan putusasa berjuang untuk mengliminir watak “apolonis”, yang telah mercuni  manusia.

Perlukah Nietzsche dimusuhi atas peringatan dan  nubuat  ateistik dahsyat tersebut. Perlu untuk direnungkan bahwa sesungguhnya pesan intrinsik Nietzsche tentang peringatan tentang stagnasi dan dekadensi moral yang mematikan watak dyanosian yang dimaksudkan tetap aktual untuk diperbicangkan, terutama dalam suatu diskursus filsafat.

Pembunuhan, kemalasan, kepengecutan dan kemunafikan, yang dikategorisasikan Nietzsche sebagai dekadensi moral, marginalisasi dan pemandulan segenap potensi dan kreativitas, kidung “Orang Gila” dengan makna emansipatoris yang dikandungnya, nilai intrinsik humanitas agung di dalamnya diangkat ke permukaan.

Dalam krisis iman dan kepercayaan, masa anomali dan kekisruhan kehidupam agamis yang semakin akut, kritik Nietzsche terhadap kristenitas cukup untuk menyadarkan kita untuk tidak mengulangi tragedi Eropa Barat abad lampau.

Nubuat Nietzsche bagi orang picik adalah monster. Bagi orang bijak, menjadi cahaya bagi penamgkaran pikiran. Daripadanya iluminasi muncul. Aporisme “Orang Gila” memungkinkan kita untuk mengadakan refleksi filosofis agar dapat keluar dari pemikiran stagnan, dari disorientasi nilai, sekaligus mengkritisi narasi agung, logosentisme yang menjadi ciri khas  posmodernisme.

Melalui aporisme “Orang Gila”, suatu menu pemikiran yang mengusung gagasan humanitas  pasca renaisans dan bersifat emansipatoris, yang secara unik dan menantang, diracik oleh  Nietzsche tersajikan.

Sumber
Sunardi, St.  Nietzsche. Penerbit: LKS Yokyakarta,  1996.
Sastrapratedja, M.  (editor) Manusia  Multi Dimensional. Sebuah Renungan Filsafat.  Penerbit: PT. Gramedia Jakarta, 1987.

Arthur Schopenhauer

BIOGRAFI ARTHUR SCHOPENHAUER DAN PEMIKIRANNYA

Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Ia menempuh pendidikan di Jerman,Perancis, dan Inggris. Ia mempelajari filsafat di Universitas Berlin dan mendapat gelar doktor di Universitas Jena pada tahun 1813. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, dan meninggal dunia di sana pada tahun 1860. Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel Kant dan juga pandangan Buddha Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (das Ding an sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni “kehendak”.
BIOGRAFI
Arthur Schopenhauer lahir pada 22 Februari 1788 di Danzig Polandia. Keluarga Schopenhauer sangat kental dengan tradisi Belanda. Ayahnya, Heinrich Floris Schopenhauer (1747 – 1805) adalah seorang pengusaha sukses yang mengontrol keluarganya dengan gaya bisnis. Nama Arthur Schopenhauer mencerminkan luasnya jaringan sang ayah dalam perdagangan internasional, sehingga ia memilihkan nama untuk anak pertamanya itu dengan kolaborasi kosa kata Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada bulan Maret 1793, ketika Schpenhauer masih berusia 5 tahun, keluarga pindah ke Hamburg, setelah Danzig diduduki oleh Prussia.
Lahir di tengah keluarga pengusaha kaya, Schopenhauer sering melakukan kunjungan wisata ke berbagai negara di Eropa. Pada tahun 1797 – 1799 ia tinggal di Perancis, dan sebentar tinggal di Inggris di tahun 1803. Kondisi inilah yang memungkinkan Schopenhauer mempelajari bahasa Negara-negara yang dikunjunginya. Schopenhauer dalam diarynya mengatakan, tinggal di Perancis adalah pengalaman paling menyenangkan. Meskipun sejak kecil sang ayah telah mendidiknya dengan bisnis, dan selama dua tahun ia mengikuti kursus dan magang bisnis di Hamburg, namun Schopenhauer merasa bisnis bukanlah jalan hidup yang cocok baginya. Pada usia 19 tahun, ia memutuskan untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. 20 April 1805 adalah hari menyedihkan bagi Schopenhauer, karena sang ayah meninggal dunia, yang diduga kuat akibat bunuh diri.
Schopenhauer masuk kuliah dan menjadi mahasiswa di Universitas Gottingen pada tahun 1809. Pada masa kuliahnya, ia belajar tentang kedokteran lalu mengambil filsafat. Gottlob Ernst Schulze, penulis buku Aenesidemus, mengajurkan Schopenhauer agar berkonsentrasi pada Plato dan Immanuel Kant. Pada tahun 1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dari Johann Gottlieb Fichte di Universitas Berlin, seorang filsuf post-Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich. Pada tahun 1813, ia memutuskan pindah ke Rudolstadt, dan pada tahun yang sama ia menyampaikan disertasinya di University of Jena, kemudian dianugerahi gelar doktor filsafat in absentia.
BERLIN
Pada tahun 1814, Schopenhauer memulai pekerjaannya sebagai penulis dengan judul bukunya The World as Will and Representation (Die Welt als Wille und Vorstellung), Dunia sebagai Kehendak dan Gagasan. Dia menyelesaikannya pada tahun 1818 dan menerbitkannya setahun kemudian. Pada tahun 1820 Schopenhauer menjadi dosen di Universitas Berlin. Dia menjadwalkan untuk memberikan kuliah yang sama dengan pemikiran filsuf terkenal G. W. F. Hegel. Schopenhauer menyebutnya sebagai clumsy charlata. Namun, hanya lima orang yang berminat mengikuti kuliahnya dan dia pun di keluarkan dari akademi tersebut.Ketika berada di Berlin, Schopenhauer pernah menjadi tersangka atas tuduhan dari seorang wanita bernama Caroline Marquet. Wanita tersebut menuduh Schopenhauer telah mendorongnya. Di dalam pengadilan Schopenhauer bersaksi bahwa wanita itu telah mengganggunya dengan suaranya yang keras di depan pintu Schopenhauer. Caroline Marquet pun menuduh Schopenhauer telah memukulnya setelah wanita itu menolak untuk pergi dari pintunya. Marquet pun menang di dalam pengadilan tersebut. Schopenhauer pun dituntut membayar wanita itu selama dua puluh tahun ke depan. Ketika perempuan itu meninggal dunia, Schopenhauer menulis sertifikat kematiannya dengan Obit anus, abit onus (“The old woman dies, the burden flies”).Hal inilah mungkin yang membuat dia sangat membenci wanita.
Tahun 1812, Schopenhauer jatuh cinta kepada penyanyi opera yang bernama Caroline Richter yang berusia sembilan belas tahun. Mereka sempat berhubungan selama beberapa tahun, kemudian rencana pernikahannya dibatalkan. Ia membuat buku pertamanya dengan judul On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason saat berkuliah si sebuah Universitas.

PINDAH KE FRANKFURT
Pada tahun 1813, wabah kolera menyerang Berlin dan Schopenhauer tinggal di kota itu. Schopenhauer pun menetap di Frankfrut tahun 1833.Pada saat itu, dia telah berusia dua puluh tujuh tahun. dia tinggal sendirian di Frankfrut, kecuali dengan binatang kesangannya Atman dan Butz Karyanya berupa pemikiran yang paling menonjol di sepanjang hidupnya adalah Senilia. Judul ini diterbitkan sebagai penghargaan kepadanya. Schopenhauer mempunyai ebuah undang-undang yang kuat. Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Buddha dan filsuf Imanuel Kant. Kekagumannya kepada keduanya itu ama besar. Hal ini terlihat dari ruang kerjanya dipasang dengan kedua patung tokoh tersebut. Pada tahun 1833, Dia hidup sebagai bujang kaya berkat warisan orangtuanya. Schopenhauer hidup dengan ketakutan kerena dia merasa terancam. Oleh sebab itu, dia sering tidur dengan pistol di sampingnya. Ia banyak menerbitkan tulisan, namun tidak laku dijual. Dia sendirilah ang membeli buku karya tulisannya untuk disimpan. Beberapa tahun menjelang akhir hidupnya, barulah ia terkenal. Buku yang disimpannya itupun diedarkannya. Schopenhauer hidup sendiri. rencana pernikahannya selalu berantakan. Dia menganggap hidup dengan banyak orang memuakkan dan membuang waktu baginya. Ia menhina dan mengejek Kaum wanita sebagai “para karikatur”.

AKHIR HIDUPNYA
Pada tahun 1860, keadaannya mulai memburuk. Dia pun meninggal pada 21 September 1860 karena gagal jantung ketika duduk di bangku sekitar rumahnya. Dia meninggal pada usia yang ketujuh puluh dua tahun.

PEMIKIRAN FILOSOFIS
Schopenhauer memberikan fokus kepada investigasinya terhadap motivasi seseorang.Sebelumnya, filsuf terkemuka Hegel telah mempopulerkan konsep Zeitgeist, ide bahwa masyarakat terdiri atas kesadaran akan kolektifitas yang digerakkan di dalam sebuah arah yang jelas. Schopenhauer memfokuskan diri untuk membaca tulisan-tulisan dua filsuf terkemuka pada masa kuliahnya, yaitu Hegel dan Kant. Schopenhauer sendiri mengkritik optimisme logika yang dijelaskan oleh kedua filsuf terkemuka tersebut dan kepercayaan mereka bahwa manusia hanya didorong oleh keinginan dasar sendiri, atau Wille zum Leben (keinginan untuk hidup) yang diarahkan kepada seluruh manusia. Schopenhauer sendiri berpendapat bahwa keinginan manusia adalah sia-sia, tidak logika, tanpa pengarahan dan dengan keberadaan, juga dengan seluruh tindakan manusia di dunia. Schopenhauer berpendapat bahwa keinginan adalah sebuah keberadaan metafisikal yang mengontrol tindak hanya tindakan-tindakan individual, agent, tetapi khususnya seluruh fenomena yang bisa diamati Keinginan yang dimaksud oleh Schopenhauer ini sama dengan yang disebut dengan Kant dengan istilah sesuatu yang ada di dalamnya sendiri.
Kadang kala manusia sekarang ini tidak mampu memahami arti hidupnya sebagai manusia, dimana mereka hidup hanya ikut-ikutan, dan tidak memiliki pegangan hidup yang kokoh yang mampu membawa mereka ke jalan yang benar. Lebih-lebih lagi bahwa manusia seolah-olah hidup hanya oleh karena kesenangan dan kemauan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Manusia lebih dipengaruhi oleh kemajuan dunia lewat berbagai kemajuan alat–alat canggih, sekaligus dibarengi juga dengan rasa manusia yang selalu haus akan kenikmatan dan kesenangan semata. Maka dalam hal inilah, seorang filsuf yang melawan pendapat dari beberapa filsuf lain seperti: G.W.F.Hegel, yang mengatakan bahwa manusia hidup oleh karena daya pikir serta rasional yang dimiliki oleh manusia. Nama dari pemikir ini adalah Arthur Schopenhauer.

Pandangan filosofis Schopenhauer melihat bahwa hidup adalah penderitaan. Schopenhauer menolak kehendak. Apalagi dengan kehendak untuk membantu orang menderita. Ajaran Schopenhauer menolak kehendak untuk hidup dan segala manifestasinya, namun ia sediri takut dengan kematian. I AM STAY AT HERE

KEPUTUSAN DAN HUKUMAN
Schopenhauer menjelaskan seseorang yang hendak mengambil keputusan. Menurut dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan berbagai macam akibat. Oleh sebab itu, keputusan yang diambil memiliki alasan atau dasar. Keputusan-keputusan ini menjadi tidak bebas lagi bagi si pemilihnya. Pemilih itu harus diperhadapkan kepada beberapa akibat dalam sebuah keputusan. Segala tindakan yang dilakukan seseorang merupakan kebutuhan dan tanggung jawabnya. Segala kebutuhan dan tanggung jawab itu pun sudah dibawa sejak lahir dan bersifat kekal Schopenhauer juga menegaskan jika tidak ada keinginan bebas, haruskah kejahatan dihukum?

PENGARUH
Kendatipun demikian, pengaruh Scopenhauer dalam perkembangan pemikiran selanjutnya cukup besar. Ia membuka jalan bagi orang suatupsikologi tentang alam bawah sadar ala FreudPemikiran Schopenhauer tentang kehendak untuk hidup di kemudian hari mempengaruhi filsafatNietzsche tentang kehendak untuk berkuasa (Der Wille zur Macht)’. Setengah abad kemudian, ajaran Schopenhauer ini memberikan inspirasi padafilsafat hidup (Vitalisme), misalnya pada pemikiran Henry Bergson (1859-1941). Selain itu, ia menghidupkan perhatian dan minat orang Barat pada studi kesustraan dan agama-agama Timur, terkhusus Buddhisme

SUMBER :
http://tasyanndt.blogspot.com/2014/10/arthur-schopenhauer.html

Pokok Pemikiran Descartes

Rene Descartes memiliki pokok-pokok pikiran dalam filsafat, antara lain:

1 .    Cogito Ergo Sum

Ia berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Untuk menemukan basis yang kuat dalam filsafat, ia meragukan terlebih dahulu segala sesuatu yang diragukan dan ia menyimpulkan bahwa 3 pengetahuan dapat diragukan, yaitu:

a.Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan                                 Contoh: memasukkan kayu lurus ke dalam air, kayu tersebut tampak bengkok

b.Fakta umum tentang dunia                                                                                                               Contoh: api itu panas, benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descartes menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari sana kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut.

c.Logika dan matematika, prinsip-prinsip logika dan matematika juga dapat diragukan.                                                                                                                                    

 Contoh: bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukkan ilusi dalam pikiran  kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.

Berdasarkan keraguan tersebut, Descartes mengeluarkan pendapat yaitu cogito ergo sum (aku berfikir, maka aku ada).

2.Ide-ide bawaan                                                                                                                                            Karena kesaksian apapun dari luar tidak dapat dipercaya, maka menurut Descartes ia harus mencari kebenaran dalam dirinya dengan menggunakan norma dan jika metoda dilangsungkan apakah hasilnya. Descartes berpendapat bahwa dalam dirinya dapat ditemukan tiga “ide bawaan”. Ia merasa ketiga ini sudah ada dalam dirinya sejak lahir masing-masing ialah pemikiran, Tuhan, dan keluasan.

a.Pemikiran                                                                                                                                                                            Sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diteruma juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.

b.Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna                                                                      Karena saya mempunyai ide sempurna, mesti ada suatu penyebab sempurna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain daripada Tuhan.

c.Keluasan                                                                                                                                                             Materi sebagai keluasan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.

3.Substansi                                                                                                                                                            Descartes menyimpulkan bahwa selain Tuhan, ada dua subtansi:

1.Pertama, jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran                                                                         2.Kedua, materi yang hakikatnya adalah keluasan

Akan tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar aku, ia mengalami banyak kesulitan untuk membuktikan keberadaannya. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materil ialah bahwa Tuhan akan menipu saya kalau sekiranya ia memberi say aide keluasan, sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Dengan demikian, keberadaan yang sempurna yang ada di luar saya tidak akan menemui saya, artinya ada dunia meteril lain yang keberadaannya tidak diragukan, bahkan sempurna.

4.Manusia                                                                                                                                                     Descartes memandang manusia sebagai makhluk dualitas. Manusia terdiri dari dua sebstansi, yaitu jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Sebenarnya, tubuh tidak lain dari suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa. Karena setiap substansi yang satu sama sekali terpisah dari substansi yang lain, sudah nyata bahwa Descartes menganut suatu dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, Descartes mempunyai banyak kesulitan untuk mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara tubuh dan jiwa berlangsung dalam grandula pinealis. Akan tetapi, akhirnya pemecahan ini tidak memadai bagi Descartes sendiri.

 

SUMBER :

http://azimatus.blogspot.co.id/2016/02/pemikiran-descartes-1596-1650.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes

http://kharirotunnadhrohs.blogspot.co.id/2013/06/pemikiran-rene-descartes.html

http://www.academia.edu/7411507/Tokoh_Filsafat_Modern_Rene_Descartes_Cogito_Ergo_Sum